Tanah Waqaf Masjid di Serobot, Begini Kronologinya - Mahasiswa Asysyahadatain

Terbaru

Kamis, 17 Januari 2019

Tanah Waqaf Masjid di Serobot, Begini Kronologinya

Masjid Jamaah Asysyahadatain di Desa Citemu, Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon dikabarkan diklaim oleh seseorang berinisial MS, DS dan ES. Ketiganya memiliki nama lain yang menunjukan identitas seorang bermarga atau keturunan etnis tionghoa. 

Hal ini seperti diungkapkan oleh Ahmad Supriyono, pada Kamis 12/07, pemilik akun sosial media Ahmad Dinejad yang juga pengunggah informasi pertama masalah tersebut, kepada GEMPA, saat dijumpai di Bima Kota Cirebon, Ahmad juga mengaku sebagai orang yang diberi mandat oleh Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya untuk mengakomodir seluruh aspirasi serta menjadi koordinator Jamaah yang peduli terkait persoalan tersebut.

Ahmad Supriyono, kiri. 

"Pada hari Selasa 12 januari terjadi pengukuran lahan secara sepihak oleh beberapa petugas BPN Kabupaten Cirebon dengan kawalan beberapa anggota Polresta Cirebon Kota tanpa adanya pendampingan dari perwakilan pemerintah desa setempat," ungkap Ahmad

Dari informasi yang didapat oleh Ahmad, ia menduga datangnya pihak BPN untuk melakukan pengukuran berawal dari adanya warga lokal yang menyewakan lahan ke petani garam, lalu seseorang yang mengaku sebagai pemilik lahan melaporkan hal tersebut ke BPN sehingga terjadilah pengukuran lahan. 

"Tanah yang diukur dimiliki oleh tiga orang berbeda, masalah menjadi timbul ketika pada saat pengukuran, salah satu lahan dari tiga nama tersebut masuk ke area tanah waqaf masjid." ungkapnya.

Ahmad menambahkan, dari total tanah 7800 meter, 5000 meter diantara diklaim oleh mereka, persisnya disebelah utara masjid disamping kediaman Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya. 

"Secara spontan, Abah (Habib Ali) langsung mempertanyakan keganjilan tersebut kepada pihak BPN yang sedang mengukur, namun petugas hanya menjawab kami hanya menjalankan tugas" tambahnya.

Dikatakan Ahmad, Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya akhirnya mengambil dan menunjukan sertifikat yang dikeluarkan oleh BPN tahun 2008 atas kepemilikan dan status waqaf tanah tersebut kepada petugas BPN yang mengukur. Namun, pihak BPN juga mengeluarkan sertifikat keluaran tahun 1994 yang dikeluarkan oleh Depdagri yang mencamtumkan bahwa tanah tersebut merupakan milik seseorang yang tak dikenal oleh pihak Habib Ali, bukan milik waqaf masjid.

"Singkatnya, diketahuilah bahwa terdapat sertifikat ganda" kata Ahmad

Ahmad Supriyono menilai masalah ini begitu ganjil dan membahayakan, seperti ketahui oleh khalayak ramai. Masjid Asysyahadatain Citemu merupakan tanah waqaf dan telah ada sejak Pendiri Jamaah Asysyahadatain Syekhunal Mukarrom Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya, kakek dari Habib Ali Ausath masih ada. Bahkan, beberapa saksi hidup dan ahli waris semua yang terlibat dalam proses waqaf dan pembangunan masjid hingga kini masih ada.

Hingga tulisan ini dibuat, tim GEMPA belum bisa menemui Habib Ali Ausath sebab masih diluar kota

Tidak ada komentar:

Posting Komentar