ASYSYAHADATAIN MEMBANGUN BANGSA DALAM BINGKAI HISTORI DAN ORGANISASI - Mahasiswa Asysyahadatain

Terbaru

Jumat, 22 Februari 2019

ASYSYAHADATAIN MEMBANGUN BANGSA DALAM BINGKAI HISTORI DAN ORGANISASI


Risalah tuntunan Asysyahadatain yang dibawa oleh Syekhunal Mukarrom Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya melalui proses panjang, bagaikan untaian tasbih, kalimat suci Syahadatain secara estafet dibawa dan diperjuangkan sesuai pada zamannya.

Diskusi Publik, Rabu 20/02
Demikian Habib Ali Ausath mengawali diskusi yang menghadirkan Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya, Habib Muhammad Iqbal Bin Ismail Bin Yahya, Habib Umar Isrofil Bin Ismail Bin Yahya dan Ust. Abdul Khakim Maula sebagai narasumber dan di pandu oleh Muhammad Arifin sebagai moderator pada Rabu 20/02 di kediaman Ust. Abdul Khakim Maula Desa Munjul, Astanajapura, Cirebon.

Dalam diskusi yang dihadiri puluhan tokoh masyakarat setempat tersebut, Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya menceritakan kisah Asysyahadatain dalam sudut pandang histori, bermula dari Habib Ahmad Bin Yahya, leluhurnya yang datang dari Hadramaut Yaman dan kini makamnya terletak di Jabang Bayi, Cirebon.

Habib Ahmad tersebut menurunkan beberapa tokoh diantaranya Habib Yusuf Penganjang Indramayu, Habib Ahmad Bin Yahya yang bergelar Sayyid Ahmad Nuril Mubin Jenun atau dikenal dengan nama lain Abah Jenun Arjawinangun, Mursyid Thariqoh Syadziliyah pada waktu itu dan Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya (Abah Umar Panguragan) serta Habib Muhammad Bin Yahya (Abah Muh Jagasatru).

Babak – babak mengawali digelarnya pengajian Syahadatain oleh Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya, pada awal abad 19 seiring berjalannya waktu semakin marak. Bahkan, tak terbendung, berbondong-bondong masyarakat menuju Panguragan, para habaib dan Kyiai juga hampir semua bertujuan dan singgah ke Abah Umar, disitulah puncak jayanya Abah Umar berkaitan dengan syiar Ngaji Syahadat di Panguragan.

Pada zaman revolusi, Abah Umar merupakan salah satu tokoh Masyumi, Abah Umar dulu adalah orang yang dekat dengan Mohammad Natsir, setelah pemilu tahun 1955 menjadi pemenang pemilu terjadilah kegagalan, Kabinet Konstituante dan Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno lantaran tidak sepemahaman dengan gagasan NASAKOM yang digaungkan Bung Karno.

Nahdlatul Ulama pada masa itu mendukung NASAKOM menurut kisah yang dituturkan oleh ayahanda Habib Ali Ausath, Habib Ismal Bin Yahya, tahun – tahun tersebut di benturkanlah Asysyahadatain dengan Nahdliyin, hal tersebut menurut Habib Ismail semata - mata murni diatur oleh PKI dalam upaya menghancurkan sesama islam.

“Dampak dari benturan tersebut ada sampai sekarang, padahal kita (NU – Asysyahadatain) itu sama-sama Ahli Sunnah Wal Jamaah, sama – sama tahlil, sama – sama istigosah, kenyataannya sempat terjadi benturan karena adalah rekayasa politik pada waktu itu.” Kata Habib Ali.

Dokumentasi Mubes Asysyahadatain IV dari Jamaah Indramayu
Dampak lain dari huru – hara Indonesia pada masa itu, Asysyahadatain pernah dibekukan oleh negara melalui tangan-tangannya yang ada di daerah dengan melakukan pembekuan sepihak terhadap Jamaah Asysyahadatain dengan tuduhan sesat.

“Pada masa pembekuan banyak kejadian-kejadian intimidasi, bahkan berdarah-darah, jubah sorban di larang oleh pemerintan. Pengikut Abah Umar waktu itu menggunakan jubah sorban secara sembunyi – sembunyi, bahkan ada yang ditutup dengan jas hitam, sorban dilapisi dengan peci hitam, karena kalau ketauan di tembak sama koramil.” Ungkapnya.

Foto Kuwu Kam dengan Syekhunal Mukarrom
Habib Ali meneruskan, Zaman pembekuan, Abah Ismail bersama Kuwu Kam (Kamaludin, Kepala Desa Martapada) sosok yang dikenal vocal menjadi fasilitator, Kyiai Khozin Munjul Pesantren serta beberapa Kyai-kyai Asysyahadatain di pimpin oleh Abah Ismail melakukan dialog terbuka dengan para pemuka-pemuka agama di Wilayah Kerasidenan Cirebon.

Lagi, kata Habib Ali Ausath, di Citemu ada dokumen surat keputusan Asysyahadatain di bekukan dan Asysyahadatain di perbolehkan kembali melakukan kegiatan. Ketika orde baru datang Abah Umar bertemu Presiden Soeharto menerima Tafsir Al Quran kemudian Abah Ismail diminta untuk menjadi salah satu anggota MPR dari perwakilan utusan daerah semata-mata untuk kita ibadah tenang, berorganisasi dengan baik menjaga jangan sampai terjadi lagi Asysyahadatain terkendala dalam berbangsa dan bernegara.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar